Fitrah dasar awal penciptaan manusia adalah
tauhid. Berdasarkan perintah Allah melalui lisan para Nabi dan Rasul-Nya:
“Wahai
kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Illah bagimu selain-Nya”(QS.
Al-a’rof:59)
Demikianlah umat manusia berada
di atas fitrah tersebut. Mereka semua berada di atas Dienul (agama) Islam, di atas
Tauhid, ikhlash, fitrah, kebenaran dan istiqomah. Mereka adalah umat yang satu,
di atas dien yang satu dan menyembah Rabb yang satu.
Mulai dari zaman bapak kita
nabi Adam ‘alaihis salam hingga sebelum zaman Nabi Nuh ‘alaihis salam. Mereka
berada di atas hidayah dan di atas syai’at yang haq karena pada saat itu mereka
mengikuti ajaran nabi.
Syirik
yang terjadi di kalangan kaum Nuh ‘alaihis salam karena sikap mereka yang
berlebihan terhadap kuburan (syirik ardhi).
Demikianlah makar setan
terhadap mereka dengan menghembuskan api perselisihan diantara mereka sehingga
mereka meninggalkan ajaran rasul, memperdayakan mereka sehingga mengagungkan orang-orang yang sudah mati
dan bermukim di kuburan-kuburan mereka. Kemudian setan memperdaya mereka
sehingga membuat gambar dan patung orang-orang yang
sudah mati itu. Ahirnya memperdaya mereka sehingga menyembah patung-patung tersebut. Orang-orang musyrik di kalangan
kaum Nuh adalah kaum yang pertama kali melakukan kemusyrikan. Bentuk
kemusyrikan yang pertama kali mereka lakukan adalah pengagungan orang-orang
mati itulah syirik ardhi, syirik
yang pertama kali terjadi di alam ini. Dan Nabi Nuh adalah Rasul pertama yang
di utus kepada kaum musyrik tersebut.
Berkenaan dengan firman Allah
Subhanahu Wata’ala:
Dan mereka berkata, ” jangan
sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula
sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd , dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nashr.”
Imam Bukhori meriwayatkan dalam
shahih-nya dari Ibnu Abbas sebagai berikut:
“ berhala-berhala yang pertama
kali ada di kalangan kaum Nabi Nuh:
1. Wadd: adalah milik kabilah
Kalb di daerah Daumatul Jandal.
2. Suwa: adalah milik kabilah
Hudzail sementara
3. Yaghuts: adalah milik
kabilah Murad kemudian menjadi milik bani Ghuthaif di daerah Jauf.
4. Ya’uq adalah milik kabilah Hamdan.
4. Ya’uq adalah milik kabilah Hamdan.
5. Nashr: adalah milik kabilah Himyar dari keluarga Dzil Kala’.
Ke 5 orang tersebut adalah nama
orang-orang saleh dari kaum Nuh. Jadi patung pertama yang dibuat adalah patung
orang saleh. Ketika mereka mati, setan membisikkan kepada kaum mereka agar
membuat patung di majelis yang biasa mereka adakan dan agar menamakannya patung
tersebut dengan 5 nama-nama mereka. Merekapun melakukannya dan ketika itu
patung-patung itu belum di sembah.
Ketika generasi mereka berakhir
dan ilmu telah di lupakan ahirnya
patung-patung itu di sembah.
Tatkala manusia telah menyembah
berhala, menyembah thaghut dan terjerumus dalam kesesatan dan kekufuran, maka
Allah mengutus Rasul pertama kepada penduduk bumi sebagai rahmat-Nya kepada
mereka, rasul itu adalah Nuh ‘alaihis salam bin Yardah bin Mahil bin Qainan bin
Anusy bin Syits bin Adam ‘alaihis salam.
Nuh ada kurang lebih sepuluh kurun sesudah Adam, mereka semua berada di atas dienul Islam, sebagaimana
disebutkan dalam shahih Bukhori dari Ibnu Abbas: “ Nabi Nuh hidup di tengah
kaumnya selama 950 tahun. Ia terus mengajak mereka beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan melarang mereka menyembah selain-Nya.”
Syirik
dalam bentuk penyembahan bintang-bintang , matahari, bulan (syrik samawi) yang
pertama kali terjadi di muka bumi di kalangan kaum Ibrahim ‘alaihis salam
Waktu demi waktu, perbuatan syirik dalam
bentuk baru terbentuk dan telah menyebar di permukaan bumi berasal dari ajaran Ash Shabi’ah
di Horran. Kaum musyrikin penyembah bintang-bintang, matahari, bulan di Kabul
dan penyembah patung di Babilonia serta para Namrudz dan Fir’aun, penguasa bumi
di Timur dan di Barat. Mereka adalah kaum musyrikin penyembah bintang-bintang
dan merupakan syirik samawi setelah syirik ardhi yang dilakukan oleh kaum
musyrikin penyembah kubur pada zaman Nabi Nuh.
Pada waktu itu penduduk bumi
seluruhnya kafir kecuali nabi Ibrahim al Khalil ‘alaihis salam dan istrinya,
Sarah serta anak sudaranya, Luth ‘alaihis salam. Maka Allah mengutus Rasul-Nya,
imam oara hunafa’, bapak para nabi, penggaga smillah yang murni, Ibrahim
Khalilurrahman dari tanah Babilonia, beliau adalah: Ibrahim bin Azar - dia adalah tarikh- bin Nahur bin Sarugh bin Raa’u bin Faligh bin ‘Anyar bin Syalikh
bin Arfakhsyadz bin Saam bin Nuh ‘alaihis salam.
Pertama
kali, dua jenis syirik (syirik ardhi dan syirik samawi) di kalangan
bangsa arab dan bangsa lainnya terjadi pada kenabian Ibrahim, seterusnya di utus-Nya Rasulullah, sebagai penutup para nabi untuk untuk membawa umat ke Tauhid.
Demikianlah secara silih
berganti nabi-nabi dari kalangan Bani Israil diutus, yang terahir adalah
Al-Masih Isa bin Maryam.
Tatkala pengutusan para nabi
dan rasul terputus selama beberapa kurun secara otomatis kedua jenis syirik
(syirik ardhi dan samawi) merajalela di atas muka bumi. Di kala itu bangsa Arab
masih memegang teguh warisan bapak mereka. Hingga
ketika Amru bin Luhaiy al Khuza’i mengunjungi negri Syam di Balqa’ menyembah berhala (mereka mengharapkan keuntungan dan menolak bala) melalui berhala tersebut. Ia
pun membawa berhala seperti itu ke kota Makkah. Ketika itu pengelolaan
Baitullah Al Haram berada di tangan Bani Khuza’ah. Dan dari oleh-oleh perjalanan
yang membawa petaka itu, dialah yang pertama kali menyimpang dari millah
Ibrahim. Ia memajang berhala-berhala di Baitullah Al Haram, dialah yang pertama
kali mensyari’atkan 4 berhala:
1. Bahirah
2. As Saaibah
3. Washilah dan
4. Al Haam
Sejak itulah orang-orang Arab
menyembah berhala-berhala. Berhala tertua adalah Manaat yang terletak di daerah
pinggiran pantai di Qudeid antara Makkah dan Madinah, kemudian Al Latta di
Thaif, yaitu batu persegi empat tempat orang-orang Arab menumbuk biji-biji
gandum, kemudian al ‘Uzza terletak di Wadi Nakhlah setelah Asy Syaraai’ sebelah
timur di luar kota Makkah.
Kemudian bermunculanlah berhala-berhala
di jazirah Arab. Hingga setiap kabilah memiliki berhala tersendiri dalam bentuk
pepohonan, bebatuan, kurma dan sebagainya. Hingga di sekeliling ka’bah terdapat
360 berhala. Bahkan setiap keluarga memiliki berhala di rumah mereka
masing-masing.
Kemudian berhala-berhala ini menyebar di tengah-tengah manusia.
Penyembahan api dan bintang di kalangan bangsa Persi, Majusi dan Ash Shaaibah
serta umat-umat lainnya, di antara mereka ada yang menyembah air, ada yang
menyembah hewan, dan ada pula yang menyembah malaikat.
Diantara mereka ada yang
berkeyakinan bahwa pencipta ada dua. Mereka adalah Al Tsanawiyyah dari penganut
agama Majusi. Mereka lebih sesat daripada kaum musyrikin Arab. Mereka menyembah
cahaya, api, air, dan tanah. Demikian pula yang terjadi pada umat-umat yang
lainnya, seperti Ash Shaaibah, Ad Dahriyyah, Al Falasifah, Al Malahidah, dan
lain-lain. Imam Ibnu Qoyyim telah menjelaskan secara rinci tentang
aliran-aliran mereka dan sesembahan-sesembahan mereka dalam kitab Ighatsalul
Lahfan II/203-320.
Kepustakaan :
·
Al- Qur’anul ‘Azhim_Ibnu
Katsier
·
Shahih Bukhori_ Imam Bukhori
·
Propaganda Sesat Penyatuan
Agama_ Bakr bin Abdullah Abu Zaid
No comments :
Post a Comment