HADITS
SHAHIH, BUKHARI MUSLIM
Bab Isra’
Mi’raj Ke Langit Dan Shalat Fardhu Lima Waktu, halaman 46, nomer 102.
Abu Dzar Ra berkata:”Rasulullah SAW
bersabda: ‘Pada suatu malam terbuka atap rumahku di Makkah, lalu turun Jibril
dan membelah dadaku, kemudian membasuhnya dengan air zamzam, kemudian ia
membawa mangkok emas yang penuh berisi
hikmah dan iman lalu dituangkan ke dalam dadaku, kemudian ditutup kembali. Lalu
ia membimbing tanganku dan menaikkan aku ke langit dunia. Ketika tiba di
langit, Jibril berkata kepada penjaganya:
“Bukalah! Lalu ditanya: ‘Siapakah itu?’ Jawabnya: ‘Jibril’. Lalu tanya
lagi: Apakah engkau bersama orang lain? Jawabnya: ‘Ya’ . Ketika telah dibuka,
kami naik ke langit dunia bertemu dengan orang yang duduk, di kanan dan kiri
orang itu ada banyak orang lain. Bila melihat ke kanan ia tertawa, tetapi bila
melihat ke kiri menangis, lalu ia menyambut: ‘Marhaban (selamat datang) Nabi
yang shalih dan putra orang shalih. ‘Aku bertanya pada Jibril: ‘Siapakah itu?’
Jibril menjawab: ‘Itu Adam AS, sedang orang-orang di kanan kirinya adalah anak
cucunya. Yang di kanan ahli surga dan yang di kiri ahli neraka, karena itu ia
tertawa bila melihat ke kanan, dan menangis bila melihat ke kirinya’. Kemudian
dinaikkan ke langit kedua, dan minta buka pada penjaganya, juga dikatakan oleh
penjaganya sebagaimana pada langit pertama, lalu dibuka’.
Anas Ra berkata : ‘Beliau bercerita
bahwa di masing-masing langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, dan
Ibrahim AS tetapi tidak dijelaskan tempatnya masing-masing, hanya menyebut
bahwa Adam di langit pertama dan Ibrahim di langit keenam’.
Anas Ra berkata: ‘Ketika Jibril dan
Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Idris, maka disambut: ‘Marhaban (selamat
datang) nabi yang shalih dan saudara yang shalih’. Lalu aku bertanya: ‘Siapakah
dia?’ Jibril menjawab: ‘Dia nabi Idris,’ kemudian ketika bertemu Nabi Musa juga
disambut: ‘Marhaban bin Nabiyyi shalih,’ dan aku bertanya: ‘Siapakah dia?
Jibril menjawab: ‘Dia Musa’. Beliau kemudian
bertemu dengan Isa yang juga menyambut: ‘Selamat datang Nabi yang shalih dan
saudara yang shalih, ketika aku bertanya: ‘Siapakah dia? Jibril menjawab: ‘Dia
Isa AS. Beliau kemudian bertemu dengan Ibrahim yang juga menyambut: ‘Selamat
datang Nabi yang shalih dan putra yang shalih’. Lalu aku bertanya: ‘Siapakah
dia?’ Jibril menjawab ‘dia Ibrahim AS’.
Kemudian aku dibawa naik sampai ke mustawa, di mana aku mendengar
suara kalam yang mencatat di lauh mahfuzh.
Maka Allah mewajibkan atas umatku lima puluh kali shalat. Lalu aku kembali
membawa perintah kewajiban itu sampai berpapasan dengan Musa, maka ia bertanya:
‘Apakah yang diwajibkan Tuhan kepada umatmu? Aku menjawab: ‘Lima puluh kali
shalat’. Dia berkata: ‘Kembalilah kepada Tuhan
untuk minta keringanan, sebab umatmu takkan kuat melakukan itu’. Maka
aku kembali kepada Tuhan untuk minta keringanan dan diberi keringanan
separuhnya. Lalu aku kembali lagi kepada Musa dan kuterangkan padanya bahwa
telah diringankan separuhnya, tetapi Musa tetap berka ta: ‘Mintalah keringanan,
karena umatmu tidak akan kuat’. Maka aku kembali kepada Tuhan dan mendapat
keringanan separuhnya lagi’. Kemudian hal itupun kusampaikan kepada Musa,
tetapi Musa tetap menganjurkan supaya minta keringanan karena umatku tidak akan
kuat melakukan itu. Maka kembalilah aku minta keringanan kepada Tuhan, sehingga
Allah berfirman: ‘Kewajiban itu hanya lima kali namun bernilai lima puluh,
tidak akan berubah lagi putusan-Ku. ‘Maka aku kembali kepada Musa dan Musa
tetap menganjurkan supaya minta keringanan, tetapi aku jawab bahwa aku malu kepada
Tuhan. Kemudian aku dibawa ke sidratul
muntaha yang diliputi berbagai warna sehingga aku tidak mengerti benda
apakah itu. Kemudian aku dimasukkan ke surga yang kubah-kubahnya terbuat dari
mutiara dan tanahnya harum kasturi (misik)’.
(Dikeluarkan oleh
Bukhari pada Kitab ke-8, Kitab Shalat dan baba ke-1, bab bagaimana
diwajibkannya shalat dalam peritiwa Isra’ Mi’raj).
No comments :
Post a Comment